Interaksi Sosial pada Masa Covid-19
Nama : Dwi Ratri Octavianita
NIM : 20310410002
Artikel ini dibuat untuk
memenuhi Tugas Sosiologi, Prodi Psikologi, Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta. Dosen Pengampu Amin Nurohmah, S.Pd.,M.Sc
Interaksi Sosial pada Masa
Covid-19
Interaksi
sosial adalah hubungan antara individu satu dengan individu yang lain, individu
satu dapat mempengaruhi individu yang lain atau sebaliknya, jadi terdapat
adanya hubungan yang saling timbal balik. Hubungan tersebut dapat antara
individu dengan individu, individu dengan kelompok, atau kelompok dengan
kelompok (Effendi, 2007). Interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial
yang dinamis yang menyangkut hubungan antar 0rang-orang-perorangan,antara
kelompok-kelompok manusia, maupun antara orang perorangan dengan kelompok
manusia (Gillin, 1954).
Di
dalam interaksi sosial ada kemungkinan individu dapat menyesuaikan dengan yang
lain, atau sebaliknya. Pengertian penyesuaian di sini dalam arti yang luas,
yaitu bahwa individu dapat meleburkan diri dengan keadaan di sekitarnya, atau
sebaliknya individu dapat mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan dalam diri
individu, sesuai dengan apa yang diinginkan oleh individu yang bersangkutan.
Ada
beberapa faktor berlangsungnya proses interaksi sosial, diantaranya, pertama,
Imitasi adalah suatu proses meniru seseorang untuk menjadi sama dengan orang
lain. Kedua, Sugesti faktor ini berlangsung apabila seseorang memberi suatu
pandangan atau sesuatu sikap yang berasal dari dirinya yang kemudian diterima
oleh pihak lain. Ketiga, Identifikasi merupakan kecenderungan-kecenderungan
atau keinginan-keinginan dalam diri seseorang untuk menjadi sama dengan pihak
lain. Keempat, Simpati suatu proses dimana seseorang merasa tertarik pada pihak
lain (Soekanto, 2002).
Sebelum
kita mengetahui bagaimana cara berinteraksi masyarakat pada masa Covid-19 ini,
kita harus paham dengan betul terlebih dahulu tentang pengertian dari Covid-19
itu sendiri.
Covid-19
Virus
Corona atau severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2)
adalah virus yang menyerang sistem pernapasan. Penyakit ini disebut dengan
COVID-19. Virus Corona (Covid-19) ini dapat menyebabkan gangguan ringan pada
sistem pernapasan, infeksi paru-aru yang berat hingga pada kematian. Negara
Indonesia sampai saat ini dengan segala usaha masih melawan Virus Corona
begitupun juga di negara-negara lain. Awal kasus dari pandemik ini dengan
pneumonia atau radang paru-paru misterius pada Desember 2019. Kasus ini diduga
berkaitan dengan pasar hewan Huanan yang ada di Kota Wuhan yang menjual berbagai
jenis daging binatang, baik yang bisa dikonsumsi ataupun tidak termasuk yang
tidak biasa dikonsumsi seperti ular, kelelawar, dan berbagai jenis tikus.
(Asy’ari, 2020).
Proses Interaksi Sosial Ditengah Pandemi Virus Covid-19
Terjadinya proses interaksi
sosial yang mengakibatkan adanya perubahan sosial tidak lepas dari adanya
aktivitas interaksi sosial yang menjadi salah satu ruang lingkup kehidupan
masyarakat disetiap kondisi dan situasi. Sama halnya dengan situasi dan kondisi
yang dihadapkan masyarakat sekarang ini. Pada sistem Sosial Statics (Statika
Sosial atau Struktur Sosial), terdapat beberapa bidang yang dapat di kaji
tentang proses interaksi sosial mayarakat di tengah pandemi virus Covid 19.
Pertama, Kelompok sosial, Covid-19 yang
bukan hanya berdampak kepada segi kesehatan juga memberikan pengaruh pada
kelompok sosial. Seperti melakukan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB)
pada setiap daerah, pelarangan masyarakat luar daerah masuk ke daerahnya adalah
contoh dari kelompok sosial. Padahal sebelum adanya pandemi ini, tidak ada
satupun daerah atau keluarga yang membatasi orang-orang datang ke wilayah dan
keluarga mereka.
Kedua, Lembaga (Pranata) Sosial,
Pemerintah Indonesia saat ini telah merubah tatanan sosial masyarakat dalam
melakukan interaksi. Hal ini dikarenakan pandemi virus Covid-19. Adanya aturan Psycal
Distancing/Sosial Distancing merupakan salah satu bentuk Paranata
Sosial yang dibuat oleh lemabga Pemerintahan Indonesia. Banyak para kepala
daerah yang mengeluarkan Surat Edaran tentang Psycal Distancing/Sosial
Distancing ini. Selain itu juga pelarangan melakukan ibadah di rumah
ibadah, pelarangan adanya melakukan acara mengundang banyak orang seperti
pesta, rapat, bahkan bersekolah di sekolah pun sudah larang oleh Pemerintah.
Tidak itu juga masyarakat juga dilarang untuk bepergian jauh mengendarai
angkutan umum. Seperti yang tertuang dalam Permenhub) Nomor 25 Tahun 2020.
Ketiga, Stratafikasi Sosial (Sosial
Stratification), pada masa pandemi Covid-19 staratafikasi sosial banyak terjadi
dimasyarakat khususnya pada segi ekonomi. Masyarakat dihadapkan pada gejolak
pengangguran dimana-mana. Akibat pembatasan sosial dan larangan untuk bekerja
diluar, banyak masyarakat yang kehilangan pekerjaan dan mata pencariannya.
Bekerja dirumah menjadi salah satu faktor adanya stratafikasi ini. Terdapat pro
dan kontra dari hal ini, masyarakat yang mengeluhkan bekerja dari rumah karena
mereka hanya akan mendapatkan penghasilan dengan bekerja di luar sementara yang
bekerja tidak harus dari luar menyetujui dan mendukung program pemerintah
dengan bekerja diluar. Pegawai swasta dengan pegawai negeri sipil, atau
pengusaha yang memakai jaringat internet adalah salah satu yang mengalami
stratafikasi sosial ini. Ketimpangan seperti ini amat sangat membahayakan dalam
lapisan masyarakat, karena akan menimbulkan kecemburuan sosial yang
membahayakan masyarakat itu sendiri. Dengan melakukan penanaman kepedulian,
membantu dan bersatu memerangi pandemic covid-19 akan menjadi solusi untuk
menghindari stratafikasi sosial.
Keempat, Mobilitas Sosial (Sosial
Mobility), di era pandemi Covid1-19 banyak perubahan dan pergerakan yang
melanda masyarakat. Di mulai dari aktivitas pendidikan, pekerjaan, perolehan
pendapatan, pertemuan, ibadah dan banyak lagi. Mobilitas yang dialami
masyarakat ini terjadi selama beberapa bulan.
Kelima, Kebudayaan, pada masa pandemi
Covid-19 banyak kebudayaan yang mengalami peregeseran pemikiran yang akhirnya
pergeseran itu menjadi sebuah kebiasaan untuk menjalankan aktivitas kehidupan
sehari-hari. Bahkan sistem sosial budaya masyarakat antara di kota dan di
pedesaan pada masa pandemi ini sama-sama menjalani kebiasaan yang sama.
Menjalani norma dan aturan yang digagaskan oleh Pemerintahan dalam menghindari
Covid-19 adalah suatu contoh pergeseran budaya yang sekarang ini secara sadar
atau tidaknya sudah dijalankan oleh masyarakat. Tidak beribadah di tempat
ibadah, tidak melakukan pesta, tidak sekolah diluar, bekerja dirumah dan rajin
mencuci tangan serta menjaga kebersihan, merupakan kebudayaan baru yang
sekarang ini ada di kehidupan masyarakat.
Kekhawatiran
terhadap Covid-19 memberikan pengaruh terhadap sikap sosial setiap individu
khususnya terhadap proses interaksi sosial yang dilakukan setiap individu.
Memutuskan menjauh dari kehidupan sosial secara normal lebih baik menurut
masyarakat sekarang ini. Akibatnya terjadi struktur masyarakat yang menimbulkan
adanya kelompok sosial, aturan dan norma baru yang bermunculan, perbedaan
tingkatan (stratafikasi sosial), pergeseran pola hidup sampai
kebiasaan-kebiasaan baru yang dijadikan sebagai kebudayaan dalam menjalani
aktivitas sehari-hari.
Namun tak perlu khawatir, kita
tetap bisa melakukan interaksi sosial melalui pemanfaatan teknologi. Dalam hal
ini kita masih bisa berinteraksi dengan orang lain menggunakan sosial media,
misalnya. Kita bisa berhubungan dengan orang lain walau dari jarak jauh,
sehingga tetap terjaga silaturahmi diantara kita dengan orang-orang tersayang.
Selain melalui pesan, kita juga bisa memanfaatkan teknologi komunikasi
melalui video call. Dengan demikian, kita tetap bisa berinteraksi dengan
bertatap muka.
Selain itu, ada beberapa cara yang efektif untuk diterapkan ketika sedang berinteraksi pada masa Covid-19, yaitu:
1. Gunakan masker setiap keluar rumah;
2. Biasakan untuk selalu mencuci tangan setelah beraktivitas;
3. Gunakan hand sanitizer sebelum dan setelah beraktivitas;
4. Sebisa mungkin hindari bersalaman dengan orang lain;
5. Tetap jaga jarak dengan orang lain.
SUMBER :
https://journal.iainlangsa.ac.id/index.php/hikmah/article/view/1837/1128

Komentar
Posting Komentar